Tsunami Jepang Hambat Produksi dan Investasi

Tsunami Jepang Hambat Produksi dan Investasi Senin, 14 Maret 2011 – 08:19 wib Ilustrasi. Foto: Tangguh Putra/okezone Ilustrasi. Foto: Tangguh Putra/okezone JAKARTA – Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, tsunami yang terjadi di Jepang menyebabkan beberapa perusahaan besar seperti di sektor elektronika dan automotif, harus menghentikan produksinya. Selain itu, kata Hidayat, investasi langsung dari Jepang ke Indonesia juga terhambat. “Sebelah utara Tokyo itu ada kawasan industri terutama automotif dan elektronik, mereka sudah tidak berfungsi. Jadwal atau program Foreign Direct Investment atau investasi langsung dari Jepang ke Indonesia menjadi terhambat. Hal ini terutama akan menjadi gangguan dalam kerjasama swasta Indonesia dengan Jepang terutama di sektor elektronika dan automotif yang komponennya belum diproduksi di Indonesia yang membutuhkan suplai dari Jepang,” kata Hidayat di Jakarta kemarin. Pemenuhan suplai komponen untuk sektor-sektor tersebut, menurut Hidayat, kemungkinan besar akan menunggu pemulihan keadaan di Jepang. “Mudah-mudahan pemulihan di sana tidak terlalu lama. Selama ini investasi dari Jepang yang masuk ke Indonesia itu dibiayai Japan Bank for Internasional Cooperation (JBIC) yang bersifat semi pemerintah, sekarang ini mereka mengutamakan percepatan pemulihan ekonomi di dalam negeri Jepang sehingga investasi ke luar tertunda,” papar Hidayat. Hidayat menambahkan, selama ini, Jepang menjadi pasar ekspor utama Indonesia. Terutama untuk pproduk oil and gas, makanan dan minuman, hasil pertanian, kerajinan, serta tekstil. “Dengan situasi seperti ini, market mereka juga terganggu. Mudah-mudahan proses pemulihan tidak terlalu lama karena Jepang telah mempersiapkan diri terhadap bencana. Rencana investasi mereka tahun ini USD15 miliar. Mereka sudah menyatakan diri mengikuti tender power plant di Jepara, proyek infrastruktur di Kalimantan, dan lain sebagainya,” tandas Hidayat. Sementara itu, Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) masih mengkaji dampak berkelanjutan dari tsunami yang terjadi di Jepang terhadap kinerja ekspor Indonesia. Ketua Umum GPEI Benny Soetrisno mengatakan, ekspor terbesar Indonesia ke Jepang didominasi oleh ekspor minyak dan gas. Khususnya, jelas dia, ekspor gas dari Indonesia yang menghidupi Tokyo Electric. Menurut Benny, pihaknya belum bisa memberitahukan dampak dari kejadian tersebut secara rinci, terutama dari segi kuantitas. “Saya masih menghitung dan mengkaji seperti apa dampaknya. Secara kuantitas, belum bisa dijabarkan. Yang pasti, tentu akan ada efek dan perubahan. Meski secara lokasi sepertinya tidak menghantam kawasan industri di Osaka,” kata Benny. Selain itu, Benny mengatakan, tsunami juga akan berdampak pada sejumlah rencana investasi dan dialog bisnis dengan investor asal Jepang. “Pasti ada perubahan. Namanya juga sedang ada bencana. Tapi, seperti apa besaran dampaknya, belum tahu,” ujar Benny yang juga Staf Khusus Menteri Perindustrian. Benny menjelaskan, produk utama yang diimpor oleh Indonesia dari Japan pada 2010 adalah mesin sebesar 30 persen, kendaraan dan komponennya 19 persen, peralatan listrik 11 persen, barang karet tiga persen, dan barang dari plastik dua persen. “Dari data ini kemungkinan terganggunya Indonesia bisa terjadi pada proyeksi investasi yang menggunakan mesin dari Jepang, merek-merek kendaraan tertentu, dan elektronika, terutama yang pabriknya berlokasi sekitar Tokyo atau Yokohama,” tutup Benny. Dihubungi terpisah, Ketua Umum Asosiasi Industri Kemasan Fleksibel Indonesia (Rotokemas) Felix S Hamidjaja mengaku, walaupun ekspor kemasan plastik ke Jepang terbilang sangat sedikit, namun, dia tetap mengkhawatirkan pasokan impor bahan baku Polypropylene (PP) dari Jepang akan terhambat pasca terjadinya tsunami. “Ekspor barang plastik (packaging) ke Jepang itu tidak ada, kalaupun ada sangat sedikit, tuntutan kualitas mereka sangat tinggi. Yang kita khawatirkan adalah terhentinya pasokan PP jenis terpolymer, yang cukup banyak dari Jepang dan dipakai untuk memproduksi jenis-jenis tertentu untuk bahan baku kemas fleksibel. Kita masih harus lihat kabarnya minggu depan ini. Saya masih harus check datanya besok. Untuk speciality plastik resin untuk kemasan fleksibel untuk cairan seperti diterjen cair, minyak goreng, harus kita inventarisir dulu minggu depan,” papar Felix. Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Budi Darmadi menuturkan, pada saat ini, pihaknya masih melakukan pengecekan terhadap suplai di sektor automotif pasca tsunami di Jepang. “Kita sedang melakukan pengecekan suplai change kita. Menghubungi para prinsipal. Kita menanyakan keberadaan stok kita. Harusnya masih ada stok,” tutur Budi. Namun, Budi memastikan, suplai di sektor automotif cukup aman. Pasalnya, kata dia, beberapa kendaraan dan komponen sudah mengandung tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) hingga 95 persen. Jadi, ujar dia, Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada impor. “Sepeda motor 95 persen local content. APV itu hampir semuanya lokal. Untuk impor, kita banyak ambil di Thailand dan beberapa negara lainnya. Baja memang pakai dari sana (Jepang) khusus. Tapi, kita mau lihat stok. Kan mereka ada stoknya. Di sana untuk automotif, kayaknya tidak terlalu terganggu, karena yang tsunami di pantai timur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: